Sebelum dimulai mungkin perlu diketahui dulu spek lengkap laptop NEC Versa E3100, khususnya seri 1702DR
NEC Versa E3100-1702DR
Intel Pentium M 740
Intel 915 Chipset
RAM 2×256 MB DDR2
60 GB HDD 5400 RPM
DVD+RW (Dual Layer)
56K Modem, NIC, WiFi, Bluetooth, IrDA
VGA Integrated 64MB (shared)
14″ WXGA Super Shine View
Windows XP Home
Sesuai tujuan semula, laptop ini akan digunakan sebagai investasi, untuk mengerjakan hal-hal produktif. Produktif berarti menghasilkan sesuatu baik itu materi ataupun ilmu pengetahuan dan pengalaman. Sementara ini PC akan digunakan sebagai multimedia dan data center ![]()
Karena laptop ini datang dengan pre-installed Windows XP Home, jadi disini saya gak akan menghapus Windows-nya, biarkan saja dulu, sayang kan bayar.
Negosiasi dengan sales NEC agar Windows XP nya dihapus aja supaya harga jadi lebih turun lagi ternyata gagal :p.
“Gak bisa mas, untuk seri E3100 semuanya pakai preinstalled Windows aseli”. Yah terpaksa deh, karena ngebet banget sama laptop ini, akhirnya saya bayar juga.
Ok, yang pertama harus dipersiapkan tentu saja CD Installer Ubuntu 6.06 LTS. Disini saya memakai Alternate CD (dulu namanya Install CD), bukan Live CD.
Aselinya hardisk laptop ini dipartisi menjadi dua. Partisi pertama menyimpan data system restore Windows sebesar 5 GB (sayang bgt kan…bisa full episode dorama tuh), sedangkan sisanya digunakan oleh system Windows dan data. Pengen juga sih ngebabat abis semua partisinya, trus install bersih dari awal. Tapi ntar dulu lah, nyobain dulu kondisi aselinya.
Untuk dapat menginstall Ubuntu tentu saja kita harus menyediakan partisi kosong (minimal 2 partisi, untuk swap dan root). Karena ada Partition Magic bajakan, jadinya saya geser aja partisi Windows menjadi 15GB, kemudian buat partisi FAT32 untuk share data Windows/Linux sebesar 30GB, dan sisanya untuk Ubuntu. Sebenarnya installer Ubuntu sudah menyediakan parted untuk meresize dan membuat partisi baru, jadi silahkan bisa dicoba.
Beginilah kondisi partisi saya sekarang
/dev/hda1 4GB Hidden W95 FAT32
/dev/hda2 15GB HPFS/NTFS
/dev/hda5 30GB W95 FAT32
/dev/hda6 380MB Linux swap
/dev/hda7 5GB Linux untuk partisi /
/dev/hda8 1.2GB Linux untuk partisi /opt
/dev/hda9 1.8GB Linux untuk partisi /home
Sengaja partisi /home nya kecil saja karena semua data disimpan di partisi FAT32 (/dev/hda5) agar bisa share access dengan windows. Partisi /opt disediakan untuk program-program bukan paket resmi ubuntu yang saya install sendiri.
Install Ubuntu
Mudah saja, masukkan CD installer ke CD-ROM drive laptop, boot, ubah urutan boot di BIOS agar dapat booting ke CDROM. Selanjutnya tinggal baca petunjuk dari installer ![]()
Ubuntu Desktop
Pada waktu pertama kali install saya menggunakan mode text untuk install full. Tapi ditengah-tengah ketika proses install X server, laptop nge-hang dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan. Akhirnya proses instalasi diulang dengan menggunakan metode install minimal (server). Setelah terinstall dan bisa masuk ke konsol tinggal install paket ubuntu-desktop, caranya:
Masukkan CD Installer Ubuntu
$ sudo apt-cdrom add
$ sudo apt-get update
$ sudo apt-get install ubuntu-desktop
Jika apt menanyakan konfirmasi jawab saja Yes. Perlu diketahui Ubuntu tidak menyediakan account root, semua akses ke system dilakukan oleh user biasa dengan menggunakan ’sudo’.
Sampai disini instalasi lancar saja, konfigurasi otomatis X bisa mengenali kartu grafis Intel 915 saya dan menjadikan i810 sebagai drivernya. Berikut ini potongan xorg.conf saya:
Section "Device"
Identifier "Intel Corporation Mobile 915GM/GMS/910GML Express Graphics Controller"
Driver "i810"
BusID "PCI:0:2:0"
EndSection
Section "Monitor"
Identifier "Generic Monitor"
Option "DPMS"
EndSection
Section "Screen"
Identifier "Default Screen"
Device "Intel Corporation Mobile 915GM/GMS/910GML Express Graphics Controller"
Monitor "Generic Monitor"
DefaultDepth 24
SubSection "Display"
Depth 16
Modes "1280x768"
EndSubSection
SubSection "Display"
Depth 24
Modes "1280x768"
EndSubSection
EndSection
Touchpad dan mouse usb dapat dikenali dan berjalan dengan baik. Function key untuk mengatur brigthness, dan volume speaker juga bisa dikenali.
Meskipun di xorg.conf udah didefinisikan Mode screen nya (1280×768) untuk WideScreen tapi ketika masuk ke X resolusi yang saya dapat hanya 1024×768, sehingga tampilan tampak seperti di-scretch dan font-nya gendut-gendut. Akhirnya setelah googling kesana kemari ketemu paket 915resolution, mudah saja tinggal install:
$ sudo ap-get install 915resolution
Kemudian restart X (Ctrl+Alt+Backspace) atau jika belum mempan, restart laptopnya
. Insya Alloh secara ajaib resoulsi widescreen akan didapatkan.
Repository Ubuntu
Tentu saja paling enak jika pada saat menginstall paket-paket Ubuntu ini kita terhubung ke internet. Namun jika tidak juga tidak menjadi soal, sekarang ini ada DVD repository Ubuntu (3 DVD), tinggal pesan. Bagaimana menambahkan daftar repository di system Anda? Paling mudah gunakan saja Synaptic Package Manager (dari menu System->Adminstration). Atau edit file /etc/apt/sources.list dan jalankan sudo apt-get update.
Menambahkan repository dari cdrom/dvd:
$ sudo apt-cdrom add
Masukkan cdrom atau dvd dan tunggu sampai Ubuntu mengindex semua paket yang ada di cdrom/dvd. Lakukan perintah diatas untuk setiap cdrom/dvd
Menambahkan repository kambing:
Edit file /etc/apt/sources.list dan tambahkan baris berikut
deb http://kambing.vlsm.org/ubuntu dapper main restricted universe multiverse
Setelah itu, jalankan $ sudo apt-get update
Frequency Scalling
Mungkin karena pada waktu pertama install saya pilih mode minimal (serer) sehingga frequency scaling tidak berfungsi. Prosesor selalu bekerja pada frekuensi penuh (1.73 Ghz). Pertama kali saya tidak menyadarinya, dan baru sadar keti membandingkan daya tahan batere antara Windows XP dan Ubuntu bagaikan bumi dan langit. Dengan Windows XP Home, batere penuh laptop dapat berjalan sekitar 3 jam lebih, tapi dengan Ubuntu paling lama 2 jam. Lagipula ketika pake Ubuntu laptop terasa cepet banget panasnya dan fan selalu berputar. Akhirnya saya menyadari bahwa di Ubuntu juga bisa mengatur frequensi prosesor agar tidak terlalu ngebut. Setelah googling kesana kemari, ketemu masalahnya ada beberapa modul yang tidak saya load secara default. Modul-modul tersebut adalah speedstep_centrino dan cpufreq_*. Untuk itu saya masukkan modul-modul tersebut ke /etc/modules. Berikut ini adalah /etc/modules saya
speedstep_centrino
cpufreq_conservative
cpufreq_ondemand
cpufreq_powersave
cpufreq_userspace
cpufreq_stat
Jangan lupa juga untuk menginstall powernowd dan laptop-mode-tools:
$ sudo apt-get install powernowd
$ sudo apt-get install laptop-mode-tools
Laptop-mode-tools dapat digunakan untuk mengatur hardisk dan prosesor. Untuk itu set true ENABLE_LAPTOP_MODE pada /etc/default/acpi-support.
Edit seperlunya /etc/laptop-mode/laptop-mode.conf, jangan lupa baca manual: man laptop-mode.conf. Berikut ini potongan contoh laptop-mode.conf saya.
ENABLE_LAPTOP_MODE_ON_BATTERY=1
ENABLE_LAPTOP_MODE_ON_AC=0
ENABLE_LAPTOP_MODE_WHEN_LID_CLOSED=0
CONTROL_CPU_FREQUENCY=1
# Legal values are "slowest" for the slowest speed that your
# CPU is able to operate at, "highest" for the fastest speed, or a value
# listed in /sys/devices/system/cpu/cpu*/cpufreq/scaling_available_frequencies.
BATT_CPU_MAXFREQ=fastest
BATT_CPU_MINFREQ=slowest
BATT_CPU_GOVERNOR=powersave
LM_AC_CPU_MAXFREQ=fastest
LM_AC_CPU_MINFREQ=slowest
LM_AC_CPU_GOVERNOR=ondemand
NOLM_AC_CPU_MAXFREQ=fastest
NOLM_AC_CPU_MINFREQ=slowest
NOLM_AC_CPU_GOVERNOR=userspace
Bahkan ketika laptop dicolokan ke power, frequency CPU tetap saya set ke userspace. Dengan ini ketika laptop dalam keadaan idle atau tidak sedang bekerja keras, frequensi CPU yang digunakan hanya 800Mhz. Frequensi ini akan naik sesuai dengan kebutuhan.
Untuk memonitor frequensi CPU yang digunakan, cobalah pasang applet CPU Frequency Scaling Monitor di panel Gnome (klik kanan-> Add Applet)

Sound Card
Tidak ada masalah, dikenali dengan baik OOTB, sama sekali gak ada setting manual. Menggunakan driver module alsa snd_hda_intel.
Modem
Di windows modem ini dikenali sebagai Agere System HDA Modem. Di Ubuntu, lspci tidak menunjukkan adanya modem. Tapi ketika menggunakan aplay -l barulah kelihatan bahwa modem ini dikenali.
$ aplay -l
**** List of PLAYBACK Hardware Devices ****
card 0: Intel [HDA Intel], device 0: STAC92xx Analog [STAC92xx Analog]
Subdevices: 1/1
Subdevice #0: subdevice #0
card 0: Intel [HDA Intel], device 1: STAC92xx Digital [STAC92xx Digital]
Subdevices: 1/1
Subdevice #0: subdevice #0
card 0: Intel [HDA Intel], device 6: Si3054 Modem [Si3054 Modem]
Subdevices: 0/1
Subdevice #0: subdevice #0
Driver yang dipakai oleh saya adalah driver bawaan alsa yaitu snd-intel8×0m. Secara default module ini di-blacklist oleh dapper karena pada beberapa sistem sering mengakibatkan hang. Tapi tidak ada salahnya saya coba, caranya tinggal uncomment di /etc/modprobe.d/blacklist.
Jangan lupa juga install sl-modem-daemon
$ sudo apt-get-install sl-modem-daemon
Coba jalankan slmodemd:
$ sudo slmodemd --alsa -c INDONESIA modem:0 &
Jalankan wvdialconf untuk membentuk konfigurasi
$ sudo wvdialconf /etc/wvdial.conf
Slmodemd akan dijalankan di backgound. Untuk menghentikan slmodemd ketik $ fg dan tekan Ctr+C. (thanks to Han Thomas)
Insya Alloh jika benar-benar berhasil akan saya tulis dalam artikel terpisah.
WiFi
WiFi terdeteksi sebagai Intel Corporation PRO/Wireless 2200BG, dan modul driver yang dipakai adalah ipw2200. Langsung terdeteksi dan bekerja dengan baik. Untuk lebih memudahkan dalam memilih jenis koneksi yang akan dipakai nantinya lebih baik kita install applet network manager.
$ sudo apt-get install network-manager-gnome
Baca juga: Nyoba WiFI di BTM ![]()
Yang belum dicoba:
WiFi (Detected, seems to work)
Modem (Detected, seems to work)
Firewire (Detected, seems to work)
IrDA (Dunno)
Bluetooth (Detected, seems to work)
Hihi masih banyak yak? Belum dicoba karena belom ada peralatan yang mendukung, blom punya HP bluetooth+IrDA
, blom sempet ke hotspot (padahal di Gedung Alumni Bogor ada), blom mudik tuk nyoba konekin modem ke telepon ![]()
Tapi untuk kebututuhan sekarang yah masih cukuplah.
Yang jelas kalau USB sama port RJ45 sih berjalan dengan baik. Udah dijajal di kantor sama warnet lancar aja, karena pake DHCP, IP otomatis didapat, gak perlu setting ribet-ribet.
Sekian dulu semoga bermanfaat. Saya akan berusaha mengupdate artikel ini jika ada suatu temuan yang menarik.
545714